Selasa, 06 Desember 2016

Peranan Sistem Informasi Geografis dan Pengindraan Jauh dalam Budidaya Perairan


http://sinasinderaja.lapan.go.id/wp-content/uploads/2014/06/bukuprosiding_710-720.pdf            Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan di bidang perikanan budidaya dan mempunyai peluang pasar ekspor yang tidak terbatas, potensi sumber lahan yang tersedia sangat luas dan mudah dibudidayakan serta karakteristik rumput laut yang hidup dengan melekat pada subtrat. Rumput laut hidup dengan cara menyerap nutrien dari perairan dan melakukan fotosintesis, sehingga pertumbuhannya membutuhkan faktor-faktor fisika dan kimia perairan seperti gerakan air, suhu, kadar garam (salinitas), nitrat, dan fosfat serta pencahayaan sinar matahari.
Penentuan kegiatan budidaya rumput laut jarang mengalami suatu kendala. Kunci keberhasilan usaha budidaya rumput laut adalah dengan menggunakan penginderaan jauh dan SIG. Teknologi ini menjadi solusi yang baik dalam penentuan lokasi yang sesuai untuk pengembangan budidaya rumput laut. SIG merupakan sarana untuk mengumpulkan, menggabungkan, dan mengolah data dari setiap parameter yang diperlukan. Keberadaan SIG dapat mempermudah pengolahan data dengan struktur yang kompleks dengan jumlah yang besar secara efisien dan dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan yang tepat.
            Penggunaan penginderaan jauh dan SIG dilakukan 5 metode yaitu survey lapangan, kesesuaian budidaya rumput laut, pengolahan citra satelit, pengolahan sistem informasi geografis dan penentuan kesesuaian lokasi budidaya rumput laut. Pengukuran parameter kualitas perairan yang menjadi syarat pertama kelayakan suatu lokasi untuk dijadikan lokasi budidaya rumput laut. Parameter yang diukur meliputi suhu, kecepatan arus, salinitas, derajat keasaman (pH) dan dissolved oxygen (DO). Kriteria kesesuaian budidaya rumput laut dapat ditentukan secara SNI berdasarkan metode yang akan digunakan dalam kegiatan budidaya rumput laut. Tahap awal pengolahan data satelit penginderaan jauh dilakukan proses koreksi berupa koreksi geometrik dan radiometrik. Koreksi geometrik dilakukan untuk menyamakan posisi pada citra dengan posisi pada bumi menggunakan acuan peta rupa bumi. Koreksi radiometrik dilakukan dengan menggunakan nilai digital menjadi nilai radiansi atau reflektansi yang bertujuan untuk menghilangkan kesalahan sudut elevasi matahari dan jarak matahari bumi pada data yang berlainan waktu, serta dilakukannya koreksi atmosferik akibat serapan dan pantulan yang dilakukan oleh partikel di atmosfer. Pengolahan Sistem Informasi Geografis (SIG) dilakukan setelah pengolahan citra satelit dengan parameter yang diolah adalah suhu permukaan laut, muatan padatan tersuspensi, dan keterlindungan.  Kesesuaian lokasi  budidaya dapat menentukan adanya faktor pembatas. Penentuan kesesuaian lokasi budidaya rumput laut dibagi menjadi 3 kelas yaitu kelas sesuai (S1), kelas cukup sesuai (S2), dan Kelas tidak sesuai (S3).


DAFTAR PUSTAKA

Ratnasari, A., K.Nirmala., S. Budhiman., Emiyati dan B. Hasyim. Pemanfaatan Data Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Penentuan Lokasi Budidaya Rumput Laut di Perairan Teluk Gerupuk, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Prosiding: Deteksi Parameter Geobiofisik dan Diseminasi Penginderaan Jauh

Selasa, 29 November 2016

Peran Bioinformatika dalam Budidaya

Bioinformatika merupakan kajian yang memadukan disiplin ilmu biologi molekul, matematika dan teknik informasi. Bioinformatika berperan di bidang klinis dalam bentuk identifikasi mutasi gen penyebab penyakit, terapi gen, dan identifikasi gen penyakit baru. Sarana utama bioinformatika adalah berbagai perangkat lunak yang didukung oleh basis data yang tersedia pada world wide web. Bioinformatika sangat bermanfaat dalam dunia perikanan, terutama diaplikasikan untuk menunjang dalam kegiatan budidaya. Berdasarkan jurnal yang diperoleh dengan judul “Sekuen Asam Amino Anti White Spot Syndrome Virus(WSSV) pada Udang Windu (Penaeus monodon)”. Serangan patogen merupakan masalah yang cukup sulit untuk ditanggulangi terutama yang disebabkan oleh virus, karena pada umumnya dapat menyebabkan kematian massal dalam waktu yang cepat. Jenis virus yang menginfeksi udang dan dapat menyebabkan kematian massal antara lain White Spot Syndrome Virus (WSSV).
Udang merupakan kultivan budidaya yang menjadi primadona ekspor. Gen anti WSSV dapat diidentifikasi melalui teknik PCR dengan menggunakan primer khusus anti WSSV. Pengamatan secara histologi morfologis dengan mengamati organ-organ yang menjadi target utama serangan WSSV ditandai dengan munculnya bintik putih pada organ target dan perubahan warna tubuh kemerahan. Prosedur penelitian yang dilakukan yaitu pengambilan sampel, isolasi DNA udang, Amplifikasi Sekuen DNA WSSV dengan PCR, dan elektroforesis. Sampel udang diberi kode untuk melihat sekuen DNA WSSV pada hasil isolasi DNA udang, isolat DNA udang digunakan sebagai template untuk sekuen DNA WSSV dalam proses amplifikasi dengan PCR. Elektroforesis dilakukan untuk memvisualisasikan DNA WSSV udang yang telah diisolasi dan diamplifikasi.
Hasil yang diperoleh, diketahui kontrol positif (+) mengandung sekuen DNA WSSV. Sehingga sekuen gen anti WSSV pada DNA udang windu asal Kabupaten Indramayu bisa dikatakan homolog dengan sekuen gen Penaeus monodon AV gene, complate cds (no. Aksesi DQ641258.1) dan Penaeus monodon PMAV (PmAV) mRNA, complete cds (no. Aksesi AY3202750.1) dengan domain fungsional lektin tipe-c.

DAFTAR PUSTAKA
Supriatna, I., Yustiati, A. dan Iskandar. 2014. Sekuen Asam Amino Anti White Spot Syndrome Virus (WSSV) Pada Udang Windu (Penaeus monodon). Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati dan Fisik. 16(1):40-46.